Kolomdesa.com, Klaten – Perayaan Hari Desa Tahun 2026 merupakan momen menggemberikan sekaligus membanggakan bagi Desa Ponggok, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Desa yang lokasinya jauh dari hingar bingar perkotaan, tentu kebanyakan orang akan berpikir wilayah itu jauh dari kesan mewah atau pun bergelimang harta.
Ternyata dugaan orang itu salah, faktanya Desa Ponggok merupakan Desa Terkaya di Indonesia saat perayaan Hari Desa Tahun 2026. Dikutip dari gunungmaskab.go.id, Pendapatan Asli Desa (PADes) mencapai 14,7 Miliar sejak tahun 2016 hingga saat ini.
Kesuksesan Desa Ponggok dalam mendongkrak PAD tentu tidak instan. Kendati kawasannya memiliki potensi, tanpa kerja keras Pemerintah Desa dan wargayanya, tentu PAD setinggi itu tidak akan mampu dicapai jika orang-orang yang ada didalamnya leha-leha atau santai.
Titik balik Desa Ponggok dari awalnya mendapat predikat desa miskin menjadi desa terkaya itu bermula tatkala Kepala Desanya, Junaedi Mulyono saat pertama kali menjabat tahun 2006 peka dengan potensi yang dimiliki.
Mulyono menjelasakan, saat terpilih menjadi kades, perasaan bangga pada dirinya belum sekali muncul. Namun, semangatnya untuk membangun daerah yang dipimpinnya begitu menggebu-gebu dan ingin mengelola seluruh potensi yang ada, untuk dijadikan sebagai sesuatu yang bernilai.
Ajak Mahasiswa dan Akademisi Kerjasama untuk Membangun Desa Ponggok
Menurut Mulyono, selama menjabat ia tidak ingin bekerja sendirian untuk membangun Desa Ponggok. Kades yang hingga saat ini menjabat itu mengandeng akademisi baik dosen, peneliti maupun mahasiswa untuk urun rembuk membangun desa yang sudah belasan tahun ia pimpin itu.
Dalam suatu kesempatan, Mulyono menjelaskan jika dalam proses membangun dan memanfaatkan potensi itu tidak melulu berpatoan pada nominal. Menurutnya, elemen lain juga dapat dilakukan agar potensi yang ada dapat dijalankan semaksimal mungkin.
“Kebanyakan orang kalau mau membangun desa kan mikirnya selalu finasialnya,” ujar Mulyono.
Manfaatkan Potensi Alam yang Tersedia
Desa Ponggok sebagai desa penuh dengan sejarah, dan potensi alam yang ada di dalamnya sangat sayang jika diabaikan. Salah satu potensi alam yang ada di Desa Ponggok yang kini menjadi wahana wisata air yang diberi nama Umbul Ponggok.
Umbul Ponggok pada awalnya merupakan sumber mata air biasa, tempatnya kumuh, tidak terurus dan kurang ada manfaatnya. Berkat kerja keras Kades Mulyono dan jajaran perangkat desa dan waragnay, saat ini wisata Umbul Ponggo banjir wisatawan, terutama saat akhir pekan baik di hari Sabtu atau Minggu. Jalan-jalan yang mengarah ke wisata mata air Umbul Ponggok akan penuh dengan kendaraan baik kecil seperti wisatawan yang mengguankan motor atau wisatawan yang menggunakan mobil sekalipun.
Manfaatkan Teknologi yang Berkembang
Setelah proses pembangunan wisata Umbul Ponggok, Kades Mulyono berkeyakinan jika wisata yang dibuatnya tidak akan ramai jika tidak dilakukan promosi dengan baik.
Menurutnya, promosi merupakan tindakan yang tidak kalah penting selain pembangunan untuk mempercantik tempat wisata yang dikembangkan.
Saat promosi, Mulyono melibatkan jajaranya mulai dari Rukun Tetanga (RT) dan Rukun Warga (RW) serta kepala dusun untuk gotong royong mengenalkan wisata alam Umbul Ponggok yang telah selesai dibangun.
Mulyono mengatakan, jika jajarannya di Desa Ponggok itu saat proses promosi awalnya difasilitasi dengan gawai yang terbilang canggih pada saat itu. Warga Desa Ponggok menyambut baik fasilitas yang diberikan oleh Pemdes Ponggok, hingga akhirnya setelah program itu dijalankan muncul website, blog dan media digital lainnya.
“Dari satu like, lalu 1000 like, begitu seterusnya hingga sampai sekarang,” terangnya.
Mulyono menyebut, berkat kerjasama dan gotong royong dalam memperomosikan wisata Umbul Ponggok itu, kini wisatawan yang datang mencapai 40 ribu orang dalam sebulan.
Kini, Desa Ponggok telah berkembang menjadi Desa Kaya. Perkembangan Desa Ponggok yang pesat dan dikenal luas oleh desa lain turut melambungkan nama kepala desanya.
Diketahui, Junaedhi Mulyono menjabat sebagai Ketua DPP Asosiasi Pemerintah Desa Seluruh Indonesia (Apdesi). Junaedhi Mulyono terpilih secara aklamasi dan akan menjabat hingga tahun 2031 mendatang. Jabatan strategis untuk seorang kepala desa. Jabatan melekat untuk memperolehnya tidak hanya duduk santai dan rebahan di kursi empuk dengan ruangan ber-AC, namun harus dicapai dengan komitmen penuh dalam berkontribusi untuk desa dan organisasi yang diikutinya.
Penulis: Fuji
Editor: Habib