Kolomdesa.com, Lamongan – Ibarat seorang anak yang telah memasuki umur empat tahun, Festival Ruwahan Desa Sendangduwur selayaknya sudah berada pada fase melompat dan berlari kencang. Hari ini, ia mungkin tak sekadar bisa berjalan, namun semakin mantap melangkah dan mengokohkan pijakannya di tengah-tengah masyarakat.
Siang itu, hari Sabtu tanggal 31 di penghujung bulan Januari, Ruwahan Sendangduwur resmi dibuka dan berlangsung meriah. Ratusan, bahkan ribuan masyarakat berbondong-bondong memadati halaman Masjid Sunan Sendang Raden Noer Rachmad yang ada di Desa Sendangduwur, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan.
Kepala Desa Sendangduwur, Barrur Rohim, dalam sambutan pembukanya, menjelaskan bahwa sebelum dimulainya rangkaian acara, masyarakat berduyun-duyun terlebih dahulu melaksanakan doa bersama, ziarah, serta babat makam secara gotong royong di hari sebelumnya.
“Acara dibuka dengan sedekah kuliner makanan khas Sendangduwur sebanyak 1000 porsi. Sedekah kuliner ini berasal dari swadaya warga. Ragam kuliner dan makanan yang disedekahkan erat kaitannya dengan sejarah dan tradisi masyarakat Sendangduwur,” ujar Rohim.
Ruwahan Sendangduwur 2026 dilaksanakan pada 12–13 Syaban sebagai bentuk persiapan spiritual menjelang menjelang puncak Haul Sunan Sendang yang ke-441–yang diperingati setiap 15 Syaban (bertepatan pada tanggal 3 Februari).
Puncak haul sendiri akan digelar oleh Masjid Sunan Sendang dalam agenda Aurod Nifsyu Syaban. Agenda ini diawali dengan peringatan Nisfu Syaban dan disambung dengan makan Sego Langgi bersama-sama. Sebuah simbol kebersamaan dan doa menyongsong datangnya bulan Ramadan.
Rohim juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh panitia serta RT dan RW yang terlibat aktif, khususnya dalam pawai budaya. “Ini kerja kolektif warga. Tanpa kebersamaan, ruwahan tidak akan berjalan seperti ini,” katanya.
Sebagai bagian dari upaya ‘njunjung dhuwur kabudayan’ yang digelar rutin sejak 2023, Ruwahan Sendangduwur kian menegaskan posisinya bukan sekadar ritual tahunan, melainkan sebuah praktik kearifan lokal dengan dimensi yang kompleks dan multifungsi.

Empat Dimensi Ruwahan Sendangduwur
Setidaknya terdapat empat dimensi utama dalam pelaksanaan Ruwahan Sendangduwur. Pertama adalah dimensi spiritual dan budaya, yang menjadi ruh utama kegiatan. Bagi masyarakat Jawa, khususnya komunitas nahdliyin, ruwahan merupakan tradisi yang telah mengakar sebagai sarana doa, ziarah, dan penguatan relasi dengan leluhur menjelang Ramadan. Di Sendangduwur, tradisi ini terhubung erat dengan sosok Sunan Sendang, tokoh penyebar Islam di pesisir utara Jawa.
Kedua adalah dimensi sosial. Melalui sedekah kuliner khas desa seperti Nasi Muduk, Sego Langgi, dan Bubur Sapar, masyarakat Desa Sendangduwur membangun solidaritas sosial. Ribuan porsi makanan disiapkan secara kolektif dan dibagikan kepada warga serta pengunjung. Proses ini tidak hanya menghidupkan nilai gotong royong, tetapi juga memperkuat kohesi sosial antarwarga lintas generasi.
Ketiga adalah dimensi pariwisata. Dengan target kunjungan sekitar 5000 pengunjung regional, Ruwahan Sendangduwur berpotensi menjadi bagian dari pengembangan pariwisata berkelanjutan berbasis religi dan budaya. Kehadiran Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI Jawa Timur, yang diwakili oleh Endah Budi Heryani, serta Kepala Dinas Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga, Siti Rubikah, menunjukkan adanya perhatian institusional terhadap potensi budaya lokal Sendangduwur.

Keempat adalah dimensi ekonomi. Ruwahan Sendangduwur membuka ruang pemberdayaan UMKM lokal, terutama batik tulis Sendangduwur yang telah lama dikenal sebagai produk unggulan desa. Selain itu, sedekah kuliner menjadi media pengenalan kekayaan gastronomi lokal, yang berpeluang mendorong ekonomi kreatif berbasis tradisi.
Rangkaian Ruwahan Sendangduwur dibuka dengan pawai budaya, dilanjut peresmian Galeri Sunan Sendang–yang disponsori Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI Jawa Timur–, serta berbagai pertunjukan kesenian. Pada hari kedua, kegiatan dimulai sore hari dengan suguhan Pasar Tradisional Latar Cendhani, yang menghadirkan suasana pasar rakyat tempo dulu. Malam harinya, festival ditutup dengan drama kolosal bertajuk “Karawuhan Sunan Drajat”.
Drama kolosal 2026 ini mengangkat kisah bertemunya Sunan Sendang dengan Sunan Drajat, dua tokoh penting dalam penyebaran Islam di pesisir Jawa, yang keduanya kini dimakamkan di wilayah Paciran, Lamongan. Pementasan ini menjadi medium edukasi sejarah sekaligus refleksi budaya yang dikemas secara artistik dan komunikatif.
Menariknya, tema drama kolosal Ruwahan Sendangduwur selalu berganti setiap tahun. Pada 2023, tema yang diangkat adalah Sejarah Masjid Sunan Sendang. Tahun 2024 mengangkat Sejarah Sumur Giling. Tahun 2025 mengusung Sejarah Sumur Jangkang. Sementara pada 2026 ini, kisah pertemuan Sunan Sendang dan Sunan Drajat dipilih sebagai benang merah cerita. Pergantian tema ini menjadi strategi kultural untuk mengeksplorasi peninggalan Sunan Sendang secara berkelanjutan, tanpa memutus kontinuitas sejarahnya.
Di umurnya yang ke empat tahun, Festival Ruwahan Sendangduwur pada akhirnya tak hanya berhenti sebatas agenda tahunan belaka, melainkan cara masyarakat menyambut Ramadan dengan penuh kesadaran sejarah, spiritualitas, dan kebersamaan. Sebuah tradisi lama yang terus dirawat, dimatangkan, dan dielaborasi agar tetap relevan dengan zaman, tanpa kehilangan akarnya.
