Kolomdesa.com – Desa kita hari ini sebenarnya tidak miskin. Ia hanya terlalu sering dimanja. Setiap tahun, bantuan datang silih berganti: dana desa, BLT, bantuan pangan, bantuan UMKM, bantuan alat pertanian, sampai bantuan yang bahkan warga sendiri lupa namanya. Desa seperti anak kos yang tiap bulan dikirimi uang orang tua, hidup jalan terus, tapi kemandirian entah di mana.
Masalahnya bukan pada bantuannya. Bantuan itu niatnya mulia. Yang jadi soal adalah ketika bantuan berubah dari stimulus menjadi sandaran hidup. Dari yang awalnya “penopang sementara” menjadi “andalan utama”. Desa pun terbiasa menunggu: menunggu bantuan turun, menunggu program datang, menunggu proposal disetujui. Kalau belum turun, ya ditunda dulu.
Ironisnya, di tengah derasnya bantuan itu, kita masih sering mendengar kalimat klasik: “Desa belum mandiri.” Padahal uangnya ada. Programnya banyak. Pelatihannya rajin. Tapi hasilnya sering nihil atau sekadar laporan akhir tahun yang rapi di map biru.
Di sinilah kita perlu jujur: apakah desa benar-benar diberdayakan, atau sekadar dibiasakan menerima?
Bantuan yang Membuat Desa Terlalu Sabar
Ketika bantuan menjadi rutinitas, desa belajar satu hal penting: bersabar. Bukan bersabar bekerja, tapi bersabar menunggu. Warga menunggu BLT. Kelompok tani menunggu bantuan pupuk. BUMDes menunggu suntikan modal. Bahkan ide usaha pun sering lahir bukan dari kebutuhan pasar, tapi dari pertanyaan: “Program tahun ini apa, ya?”
Pemberdayaan ekonomi desa seharusnya membuat warga bertanya, “Apa yang bisa kita jual?”
Yang terjadi justru sebaliknya: “Apa yang bisa kita ajukan?”
Tak heran jika banyak usaha desa hidup sebentar, lalu mati pelan-pelan setelah program selesai. Karena sejak awal, usaha itu tidak dibangun dari logika bisnis, melainkan logika anggaran. Selama ada dana, usaha jalan. Dana habis, usaha ikut pamit.
Desa akhirnya mahir satu hal: mengelola bantuan, bukan mengelola usaha.
Antara Disubsidi dan Didayakan
Pemberdayaan ekonomi desa sebenarnya bukan perkara rumit. Intinya sederhana: membuat desa mampu menghasilkan, bukan sekadar menerima. Tapi di sinilah dilema muncul. Bantuan yang terlalu mudah justru sering mematikan daya juang. Seperti sepeda dengan roda bantu—aman, tapi tak pernah belajar seimbang.
Banyak desa punya potensi luar biasa: hasil pertanian, wisata, kerajinan, bahkan sumber daya manusia yang kreatif. Sayangnya, potensi itu sering kalah pamor dengan bantuan instan. Mengapa repot membangun pasar kalau bantuan bisa langsung cair?
Padahal desa tidak kekurangan tenaga, yang kurang justru keberanian mengambil risiko. Bantuan sering kali membuat desa takut gagal, karena kegagalan berarti “tidak sesuai juknis”. Akhirnya, desa memilih aman: ikuti format, patuhi petunjuk, jangan macam-macam.
Pemberdayaan sejati justru sebaliknya: berani mencoba, berani salah, lalu belajar.
Belajar Melepas Ketergantungan
Bukan berarti bantuan harus dihentikan. Tidak. Tapi bantuan perlu diubah perannya. Dari tujuan akhir menjadi alat bantu. Dari yang memberi ikan, menjadi yang mengajarkan cara memancing—dan membiarkan desa jatuh ke sungai sebentar, agar tahu cara berenang.
Desa perlu diberi ruang untuk gagal tanpa langsung dicap tidak mampu. Perlu didorong untuk berpikir jangka panjang, bukan sekadar serapan anggaran. Dan yang paling penting, perlu diyakinkan bahwa desa bisa hidup tanpa selalu menunggu bantuan.
Karena desa yang mandiri bukan desa yang tak pernah menerima bantuan, melainkan desa yang tidak panik ketika bantuan berhenti.
Menjadi Desa yang Tidak Selalu Menunggu
Pada akhirnya, pilihan ada di kita: terus memanjakan desa dengan bantuan, atau mulai mempercayainya untuk berdiri sendiri. Bantuan memang membuat hidup lebih mudah, tapi kemandirianlah yang membuat desa lebih bermartabat. Sebab desa yang terlalu sering diberi ikan, lama-lama lupa bahwa ia sebenarnya punya tangan, punya alat pancing, dan punya laut yang luas di sekitarnya.