Kolomdesa.com, Malang – Desa Gunungronggo, Kecamatan Tajinan, Kabupaten Malang, kembali menggelar upacara adat, yaitu tradisi Nyadran yang berlangsung meriah dan khidmat. Acara ini menjadi ajang masyarakat setempat untuk mensyukuri limpahan sumber daya alam sekaligus mengingat dan mengenang leluhur desa. Banyak warga memadati area Sumber Jenon, tempat diadakannya ritual yang telah berlangsung turun-temurun ini.
Acara ini turut dihadiri oleh Bupati Malang, sejumlah Kepala Dinas, serta tokoh Masyarakat lainnya. Dalam sambutannya, Bupati Sanusi mengungkapkan rasa bangganya melihat semangat dan kekompakan dari warga Gunung Ronggo dalam menggelar budaya turun menurun tersebut. Menurutnya, dalam tradisi Nyadran, acara yang disimbolkan dengan makan bersama ini memiliki makna mendalam salah satunya sedekah, dan diambil dari ajaran Islam yang disebarkan oleh para wali. “Sedekah yang paling baik adalah dengan memberikan makanan kepada orang sekitar,” ujarnya.

Bupati Sanusi juga menekankan bahwa tradisi Nyadran ini adalah pengingat agar kita senantiasa mawas diri. Di penutupan sambutannya, ia mengajak warga yang hadir serta tamu undangan untuk bersholawat dan berdoa untuk kebaikan dan keberkahan seluruh masyarakat. Sebagai apresiasi terhadap panitia, Bupati Sanusi menyerahkan sumbangan dari kantong pribadinya.
Di tempat yang sama, Kepala Desa Asmuri menjelaskan bahwa keberadaan Sumber Jenon menjadi jantung kehidupan bagi masyarakat. “Hampir seluruh warga setempat menggantungkan hidup dari aliran air Sumber Jenon. Sumber ini adalah simbol keberkahan bagi masyarakat. Air digunakan untuk minum, pertanian, dan wisata,” paparnya.
Asmuri berharap Desa Gunungronggo semakin dikenal sebagai desa yang konsisten mengangkat nilai budaya dan melestarikan kebiasaan leluhur, khususnya tradisi nyadran tersebut. “Semoga warga semakin guyub dan selalu menjaga keasrian tempat ini,” tambahnya.
Prosesi Kegiatan Nyadran
Dalam tradisi Nyadran, warga dari setiap RT membawa tumpeng. Terlihat tumpukan tumpeng yang terkumpul hari itu. Selain tumpeng, ada pula yang membawa nasi bungkus serta kue. Di akhir acara, seluruh warga masyarakat melaksanakan makan bersama, menciptakan suasana guyub rukun dan kebersamaan yang hangat antar warga. Sanusi, warga RT 18 yang datang bersama keluarganya, mengungkapkan rasa senang dan bangganya dapat mengikuti prosesi tradisi Nyadran ini. “Kami berharap agar mendapat kebaikan di tahun berikutnya,” katanya.

Setelah prosesi doa, warga duduk bersama di sekitar Sumber Jenon untuk makan bersama. Tradisi makan bersama ini bukan hanya sekedar menikmati hidangan, tetapi juga mempererat tali silaturahmi antar warga. Dengan membawa berbagai jenis makanan dari rumah masing-masing, warga berbagi dan menikmati hidangan bersama-sama, menciptakan suasana kebersamaan yang rukun antar warganya.
Tumpeng yang dihias dengan lauk pauk seperti ayam, telur, sayur-sayuran, dan sambal menjadi pusat perhatian. Selain itu, berbagai kue tradisional seperti apem, klepon, dan lemper juga melengkapi meja makan. Makanan-makanan ini disusun rapi di atas tikar, membentuk pemandangan yang penuh warna dan menggugah selera.
Sumber Air Jenon

Sumber Jenon sebagai sumber mata air yang berada di area sawah ini memiliki makna yang sangat penting bagi masyarakat Desa Gunung Ronggo. Air dari sumber ini digunakan untuk berbagai keperluan sehari-hari seperti minum, pertanian, dan juga menjadi objek wisata yang menarik. Keberadaan Sumber Jenon yang tak pernah kering meskipun musim kemarau, dianggap sebagai berkah yang harus dijaga kelestariannya.
Dalam upacara Nyadran, Sumber Jenon tidak hanya menjadi lokasi prosesi tetapi juga simbol keberkahan dan sumber kehidupan bagi masyarakat desa. Oleh karena itu, menjaga kebersihan dan kelestarian Sumber Jenon menjadi tanggung jawab bersama.
Dengan itu, upacara Nyadran di Desa Gunung Ronggo menjadi salah satu cara masyarakat untuk melestarikan tradisi dan budaya leluhur. Melalui kegiatan ini, nilai-nilai kebersamaan, gotong royong, dan rasa syukur terus diwariskan kepada generasi muda. Tradisi ini juga menarik perhatian wisatawan yang ingin menyaksikan langsung kekayaan budaya yang dimiliki desa ini.
Dengan semangat kebersamaan dan rasa syukur, warga Desa Gunung Ronggo berharap agar tradisi Nyadran dapat terus dilestarikan dan menjadi warisan budaya yang berharga bagi masa depan.
Penulis: Lukacs Lazuardi
Editor: Mukhlis