Kopina Sajang: Perjalanan Usaha Kopi Abdul Rozak Pasca Gempa Lombok

Abdul Rozak, pemuda Desa Sajang, Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur berhasil menjalankan bisnis kopi pasca gempa Lombok pada 2018 lalu. Bisnis kopi yang dijalankan seperti menjadi berkah bagi dirinya dan warga terdampak bencana sebab kehilangan mata pencaharian di dunia pariwisata.
Abdul Rozak, pemilik brand Kopina Sajang. Sumber: Dokumentasi Kolom Desa.
Abdul Rozak, pemilik brand Kopina Sajang. Sumber: Dokumentasi Kolom Desa.

Kolomdesa.com, Lombok TimurKopina Sajang, nama atau merek kopi dari Desa Sajang bak menjadi berkah pasca gempa yang menimpa Lombok pada tahun 2018 dan pandemi Covid-19 lalu. Kopina Sajang diinisiasi oleh Abdul Rozak, warga Desa Sajang, Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur.

Desa Sajang merupakan desa yang terkenal akan produksi kopi jenis arabika dan robusta. Dengan suhu rata-rata 29-35 pada ketinggian 850 DPL (dari permukaan laut), kontur wilayah Desa Sajang relatif berbukit. Sebab itu, tanaman kopi cocok di wilayah ini. 

Tim Kolom Desa saat berkunjung ke Desa Sajang. Sumber: Dokumentasi Kolom Desa.
Tim Kolom Desa saat berkunjung ke Desa Sajang. Sumber: Dokumentasi Kolom Desa.

Usaha Kopina Sajang tersebut menjadi jalan keluar bagi warga Desa Sajang yang kehilangan mata pencaharian terutama di bidang pariwisata. Setidaknya 100 orang yang terdiri dari pemandu (guide) dan jasa angkut barang (porter) Gunung Rinjani ikut dalam usaha kopi ini dengan dikomandoi oleh Abdul Rozak. 

“Ini bisa menghidupi kita ketika bencana Rinjani, jadi pemandu gak bisa, jadi porter gak bisa, ya harus buka usaha selain pariwisata,” ungkap Abdul Rozak kepada Kolomdesa.com, Rabu (9/10/2024).

Menurut Rozak, kopi menjadi salah satu souvenir yang diminati oleh para pendaki Gunung Rinjani. Dia sejak lama menekuni paket wisata kopi bernama Green Bean. 

“Sejak 2016 selain usaha pariwisata saya juga jual kopi, soalnya diminati oleh pendaki. Bisa dibuat bekal ke atas ada juga yg dibuat oleh-oleh,” kata Rozak.

Sebab ketertarikannya pada dunia kopi, Rozak sempat bolak-balik ke Jakarta untuk mengikuti sejumlah pameran kopi dan pelatihan. Ia juga mendapatkan kesempatan magang di salah satu wilayah Jakarta dan semenjak itu dia mulai melihat peluang usaha.  

Kata dia, bisnis kopi di Jakarta cukup populer. Bisnis kopi pun dalam pandangannya tidak akan mati selagi menunggu pariwisata di Sajang kembali pulih.

Didorong keinginannya, Rozak mengajak tim usaha pariwisatanya untuk membangun usaha kopi dengan dinamai Kopi Abang (Arabika Sajang) di Desa Sajang. 

“Saya lihat waktu di pameran juga banyak artis-artis yang ikut datang ke sana,” selorohnya. 

Peminat Kopi Abang cukup ramai hingga pada tahun 2021, saat itu Rozak masih menggunakan alat pemanggang seadanya. Kopi disangrai menggunakan gerabah, bahkan jika ada permintaan untuk kopi soft, Rozak harus pergi ke rumah daran di Kota Mataram untuk dapat mengolah kopinya itu. 

Rasa kopi yang dihasilkan pun menjadi tantangan. Rozak mengaku kadang hasil kopi yang disangrai hari ini akan berbeda rasanya dengan yang kemarin. “Kadang gosong, kadang terlalu mentah,” ungkapnya. 

Setelah pandemi Covid-19, manajemen akhirnya beralih ke mesin roasting. Proses produksi kopi menjadi lebih mudah dan cepat, bahkan seminggu dapat menghasilkan 100 hingga 200 kilo. 

Pada 2020, Rozak bersama beberapa petani Green Bean pergi ke Jakarta untuk mengikuti kelas roastery dan manajemen bisnis. Proses produksi pun terus berkembang sebab anggotanya mendapatkan pembekalan secara langsung. 

Hingga pada akhirnya, manajemen bersepakat mengubah nama brand Kopi Abang menjadi Kopina Sajang atas usulan Kementerian Pariwisata dan Industri Kreatif (Kemenparekraf) pada tahun 2021. Sebab keunikan rasanya, brand kopi milik Alumni Universitas Mataram tersebut mendapatkan hadiah berupa kemasan premium. 

“Kita sudah ganti (nama) brand, maka kami juga belajar sosial media dan produknya saya iklankan ke Facebook. Dari Facebook itu jika ada yang minat, kita arahin ke WhatsApp,” katanya. 

Sedangkan untuk pemasaran offline, Kopina Sajang menyasar warung-warung di Kecamatan Sembalun hingga supermarket yang ada di Kota Mataram. 

Produk kemasan Kopina Sajang asal Desa Sajang, Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur. Sumber: Dokumentasi Abdul Rozak.
Produk kemasan Kopina Sajang asal Desa Sajang, Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur. Sumber: Dokumentasi Abdul Rozak.

“Kami juga sudah menaruh produk di Bandara, juga 5 outlet yang ada di Jakarta,” tutur Rozak.

Kopi yang didistribusikan ke warung hingga reseller seluruhnya dalam bentuk kemasan. Menurut Rozak, hal tersebut bertujuan agar value atau nilai dari Kopina Sajang tidak berpindah ke tempat lain.

“Kami menghindari menjual dalam bentuk mentahan, sebab ingin mempertahankan value tersebut,” katanya.

Selain itu, perbedaan harga penjualan kopi mentah dan kopi kemasan juga menjadi pertimbangan Rozak. 

“Perbandingannya cukup lumayan, jadi hasilnya itu juga dapat kami alirkan ke pekerja,” katanya. 

Kopina Sajang ini dibanderol dari harga 50 hingga 200 ribu untuk kopi jenis arabika, dan 25 hingga 90 ribu dengan jenis kopi robusta

Gandeng Kelompok Tani Hingga Marjinal 

Abdul Rozak mengambil kopi dari 3 kelompok tani yang ada di Desa Sajang. Rozak mengatakan, kualitas kopi dari petani Sajang tidak kalah dengan kopi mahal lain. Selain tumbuh di dataran dengan iklim yang cukup bagus, tanaman kopi juga terbebas dari bahan kimia. 

“Salah satu keunggulan kopi Sajang ini adalah mereka dipupuk menggunakan bahan organik,” ungkapnya. 

Kopina Sajang: Perjalanan Usaha Kopi Abdul Rozak Pasca Gempa Lombok
Petani Desa Sajang saat panen kopi. Sumber: Dokumentasi Abdul Rozak.

Dalam setahun, Rozak membeli 2 hingga 3 ton kopi dari ketiga kelompok tersebut. Rozak tidak menjalin kerja sama secara terikat. Petani masih dapat menjual kopinya ke tempat lain. 

Selain itu, Rozak merekrut kelompok marjinal sebagai tenaga kerja di produksi Kopina Sajang. Kelompok marjinal tersebut merupakan janda-janda yang ada di Desa Sajang. 

“Jadi mereka yang meroasting kopinya,” katanya. 

Untuk proses packaging atau pengemasan, Rozak pula mengajak remaja Desa Sajang. Hal itu ia tujukan agar generasi muda di Desa Sajang mengenali proses di dunia kerja. 

“Jadi mereka yang gak ada kegiatan, kami ajak untuk ikut memproses Kopina Sajang ini,” tutur dia. 

Rozak mengatakan, target yang ingin dicapai ke depan adalah meningkatkan manajemen produksi dan pemasaran. ia terinspirasi dengan konsep produksi salah satu perusahaan rokok yang memiliki mitra yang cukup andal. 

“Harapannya ke depan ya gimana caranya kita bisa dapat suplai bahan yang cukup dan memadai untuk proses produksi kopinya, pun jangkauan pemasarannya juga lebih luas,” pungkasnya.

Ikuti berita Kolomdesa.com terupdate di:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Inovasi Lainnya