LABUAN BAJO – Masyarakat desa terpencil di Pulau Medang perairan Labuan Bajo Nusa Tenggara Timur (NTT) bahu-membahu memasang Pembangkit Listrik Tenaga Surya Atap (PLTS Atap). Pembangunan PLTS Atap tersebut merupakan inisiasi dari Komunitas Lintas Agama dengan tujuan untuk Pemenuhan listrik di desa tersebut.
“Kami sebelumnya hanya mengandalkan genset berbahan bakar solar. Itu pun kami menyewa, yang biayanya cukup tinggi. Sehingga hanya beberapa kepala keluarga yang ada di sini yang mampu menggunakannya,” ujar Ambo Dae, satu penduduk Pulau Medang, Sabtu (27/5/2023).
Pada 2023, pemerintah juga telah mencanangkan peningkatan rasio elektrifikasi nasional, terutama untuk kawasan timur Indonesia. Lebih spesifik lagi, bisa menjangkau daerah terpencil seperti di wilayah Maluku, Maluku Utara, Papua, maupun NTT, dan juga pulau-pulau terluar serta terpencil lainnya.
Hal tersebut dimaksudkan untuk memberikan akses kepada masyarakat atas energi listrik selama 24 jam penuh. Pasalnya, selama ini masalah energi kelistrikan yang minim masih jadi catatan bagi wisatawan yang hendak datang ke pulau yang secara administratif termasuk Kecamatan Boleng, Kabupaten Manggarai Barat itu.
Alhasil, sejumlah wisatawan yang sudah pernah datang kemudian berinisiatif untuk memberikan solusi atas masalah tersebut. Pasalnya, krisis listrik di pulau eksotis itu juga punya dampak terjadap sektor ekonomi dan pendidikan bagi generasi mudanya juga.
Berpegang pada Peraturan Menteri ESDM Nomor 26 tahun 2021 Bab II, terdapat dua pasal yang membahas penggunaan PLTS Atap. Dari situlah, kedua pihak memanfaatkan teknologi PLTS Atap guna mengakhiri krisis energi di pulau Medang.
Pada pertengahan Maret, disepakati ketersediaan 100 unit PLTS Atap untuk dusun-dusun yang terisolir. Seluruh peranti kelistrikan dan penerangan sebelum sudah dirangkai pada lokasi yang terpisah dengan baterai dan inverter untuk setiap modul didesain built-in.
“Menurut data kami pada 2020, dari sekitar 75.000 desa di Indonesia, ada 433 desa yang belum bisa menikmati aliran listrik. Termasuk di Pulau Medang dan pulau-pulau lain serta desa-desa yang ada di dataran Flores di Manggarai Barat,” jelas Asisten I Bupati Manggarai Barat, Hilaris Madin.
Hilaris menerangkan elektrifikasi belum bisa menjangkau keseluruhan wilayah Manggarai Barat karena hingga 2022, rasio elektrifikasinya baru 65 persen. Adanya proyek kelistrikan sekaligus penerangan juga diharapkan bisa memperkuat sinergi antaranggota masyarakat, termasuk antarumat beragama.
“Program ini merupakan bentuk kemaslahatan umat dan untuk kepentingan umum. Kami sangat mendukung dan siap untuk bekerja sama di program-program selanjutnya. Harapan kami program ini membawa manfaat dan akan terus berlanjut,” tutup Ketua Pengurus Nadhlatul Ulama DPD Manggarai Barat H. Ishak M Jabi.
Penulis: Erdhi
Editor: Rizal