Tradisi Ngaben: Memperingati Kematian dengan Upacara Agung

Ngaben Tradisi Bali, Sumber Foto: Twitter @KemendikbudRI
Ngaben Tradisi Bali, Sumber Foto: Twitter @KemendikbudRI

Share This Post

BALI– Di Indonesia, khususnya di pulau Bali, terdapat berbagai tradisi unik yang merupakan bagian penting dari kehidupan masyarakat setempat. Salah satu tradisi yang menonjol adalah tradisi ngaben. Tradisi ini merupakan sebuah tradisi yang diawali dengan upacara pemakaman yang diadakan dengan penuh khidmat dan kehormatan.

 

Menurut kepercayaan Hindu, kematian hanya merupakan perpindahan dari satu wujud ke wujud lainnya, dan jiwa yang meninggal harus melewati serangkaian tahapan menuju reinkarnasi. Ngaben menjadi upacara yang penting dalam proses ini, di mana jenazah dihormati dan diantar menuju alam baka.

 

“Tradisi ngaben termasuk upacara mahal, mereka yang memiliki cukup dana harus segera melaksanakannya” ucap Firdaus diikutip dari tirto.id

 

Dalam pandangan agama Hindu, jenazah yang dimakamkan dengan upacara ngaben akan memperoleh kesempatan untuk melanjutkan perjalanan spiritualnya dengan tenang dan murni. Upacara ini dianggap sebagai bentuk penghormatan terakhir kepada jiwa yang telah meninggalkan dunia fisik. Melalui ngaben, keluarga dan masyarakat berusaha untuk memberikan yang terbaik bagi roh yang meninggalkan tubuhnya.

 

Ngaben Tradisi Bali, Sumber Foto: Twitter @andreOPA
Ngaben Tradisi Bali, Sumber Foto: Twitter @andreOPA

 

Pelaksanaan Tradisi Ngaben

 

Sebelum pelaksanaan ngaben, keluarga yang berduka harus mempersiapkan berbagai persiapan yang melibatkan proses ritual dan keagamaan. Pertama-tama, mereka harus membuat wadah dari anyaman bambu yang disebut “bade” untuk menampung jenazah. Bade ini sering kali dihiasi dengan hiasan-hiasan indah dan melambangkan perjalanan spiritual yang akan dihadapi oleh jiwa yang meninggal.

 

Selanjutnya, jenazah dimandikan dan dibersihkan secara ritual oleh keluarga. Setelah itu, jenazah diletakkan di dalam bade dan diarak menuju tempat kremasi yang biasanya berada di pura atau tempat suci lainnya. Pengiringan jenazah ini dilakukan dengan penghormatan yang tinggi dan musik yang khas.

 

Sampai di tempat kremasi, prosesi ngaben mencapai puncaknya. Jenazah diletakkan di atas tumpukan kayu yang telah disiapkan dengan teliti. Kemudian, upacara pemakaman dilakukan oleh seorang pendeta Hindu yang memimpin doa-doa dan mantra. Api dinyalakan, dan jenazah dibakar sampai habis dalam prosesi kremasi yang sakral.

 

Setelah prosesi kremasi selesai, sisa-sisa abu jenazah dikumpulkan dan diletakkan di dalam sebuah wadah, yang disebut “kuburan sementara”. Keluarga biasanya menunggu waktu yang tepat untuk mengadakan upacara pelepasan abu, yang disebut “ngaben tegak”.

 

Ngaben Tradisi Bali, Sumber Foto: Twitter @KemenkesRI
Ngaben Tradisi Bali, Sumber Foto: Twitter @KemenkesRI

 

Mengutip dari penelitian Prigle, ngaben tegak merupakan bagian penting dari tradisi ngaben, di mana abu jenazah diberangkatkan ke alam baka melalui upacara keagamaan yang khusus. Selama ngaben tegak, keluarga dan masyarakat berkumpul untuk memberikan penghormatan terakhir dan memohon restu bagi jiwa yang meninggal.

 

Upacara ngaben tegak sering melibatkan penggunaan “lenong” atau menara bambu yang tinggi sebagai wadah untuk abu jenazah. Menara tersebut dihiasi dengan dedaunan, bunga, dan kain warna-warni yang melambangkan keindahan dan kemuliaan upacara ini. Saat prosesi, menara lenong diangkat dengan hati-hati oleh sekelompok pria yang terampil, yang melambangkan pengangkutan jiwa ke alam baka.

 

Jenis Tradisi Ngaben

 

Terdapat beberapa jenis pelaksanaan tradisi ngaben sesuai dengan kemampuan ekonomi masyarakat. Selain itu tatacara pelaksanaan tradisi ngaben sebagai berikut:

 

Ngaben Tradisi Bali, Sumber Foto: Twitter @Thrasnadana
Ngaben Tradisi Bali, Sumber Foto: Twitter @Thrasnadana

 

Tradisi Ngaben Sawa wedana

Tradisi ini dilaksanakan saat kondisi jenazah masih utuh atau tidak dikubur terlebih dahulu. Tradisi ngaben ini dilaksanakan antara 3-7 hari setelah meninggal

 

Tradisi Ngaben Asti Wedana

Tradisi ini melibatkan kerangka jenazah yang pernah dikubur. Upacara ini juga diikuti dengan upacara gagah, yaitu upacara menggali kembali kuburan dari orang yang bersangkutan untuk kemudian mengupacarai Tulang belulang yang tersisa.

 

Tradisi Ngaben Swasta

Upacara ini tanpa memperlihatkan jenazah maupun kerangka mayat. Hal ini dilakukan karena beberapa hal seperti meninggal di luar negeri atau meninggal jenazah tidak ditemukan. Pada upacara ini jasadnya hanya disimbolkan dengan kayu Cendana.

 

Tradisi Ngaben Ngelungah dan Warak Kruron

Ngelungah adalah upacara untuk anak yang belum tanggal gigi. Sedangkan Warak Kruron merupakan upacara yang dilakukan untuk bayi.

 

Editor: Ani

 

Ikuti berita Kolomdesa.com terupdate di:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Budaya Lainnya